SPPG Yayasan Faskhai Palembang Tertib dan Higienis, 47 Pekerja Layani Ratusan Siswa

Insert88.com, PALEMBANG — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Badan Gizi Nasional melalui Yayasan Faskhai Mulia Indonesia memastikan operasional dapur gizi di kawasan Ilir Timur I, Kota Palembang berjalan aman, tertib, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Hal tersebut disampaikan Kepala SPPG Yayasan Faskhai Mulia Indonesia, Della Nirvananda, saat ditemui di lokasi dapur yang berada di Lorong Jambu No. 1, Jalan Kolonel Atmo, Senin (4/5/2026).

“Alhamdulillah suasana di sini sudah seperti keluarga. Hubungan antara aparat, warga sekitar, dan relawan dapur terjalin sangat baik. Jadi sampai saat ini kondisi tetap aman, saling mengayomi, dan kami bisa bekerja dengan tenang,” ujar Della, didampingi Asisten Lapangan Nurul Komariyah.

Della menjelaskan, pihaknya sengaja merekrut relawan dari lingkungan sekitar dapur sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Selain membuka lapangan kerja, langkah ini juga memperkuat rasa memiliki terhadap fasilitas yang ada.

“Relawan kita ambil dari sekitar dapur. Secara tidak langsung mereka ikut menjaga dan melindungi operasional dapur. Dampaknya positif bagi warga,” jelasnya.

Ia menegaskan, hingga saat ini tidak ada tuntutan maupun konflik dari masyarakat maupun instansi terkait. Sistem keamanan pun diperkuat dengan keberadaan petugas keamanan yang berjaga 24 jam secara bergantian.

Saat ini, SPPG Yayasan Faskhai Mulia Indonesia melayani kebutuhan gizi dengan 2.300 porsi setiap harinya untuk 11 sekolah di wilayah tersebut. Jumlah itu berpotensi bertambah dalam waktu dekat.

“Sekarang ada 11 sekolah penerima manfaat, dan informasinya akan ada penambahan lagi,” katanya.

Untuk menunjang operasional, dapur ini melibatkan 47 tenaga kerja yang dibagi dalam beberapa shift, mulai dari persiapan malam hingga distribusi pagi hari.

Dalam menjaga kualitas makanan, pihak SPPG menerapkan standar ketat mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses distribusi.

“Bahan baku harus segar dan sesuai MoU dengan supplier. Misalnya ayam tidak boleh berubah warna atau berbau. Semua harus memenuhi standar,” tegas Della.

Proses memasak juga diatur secara bertahap menyesuaikan jadwal pengiriman, yakni dalam tiga sesi mulai pukul 07.00 hingga 10.30 WIB. Selain itu, suhu makanan dikontrol oleh ahli gizi sebelum dikemas untuk menghindari risiko kontaminasi.

Kebersihan lingkungan menjadi perhatian utama. Sistem pengelolaan limbah dan sampah dilakukan setiap hari untuk mencegah bau, hama, maupun gangguan bagi warga sekitar.

“Pembuangan sampah diangkut setiap hari. Kami juga menjaga IPAL dan kebersihan lingkungan agar tidak mengganggu masyarakat,” ujarnya.

Untuk menjaga sterilisasi, setiap orang yang masuk dapur wajib mengikuti SOP ketat, termasuk pemeriksaan kondisi kesehatan.

“Kalau ada yang kurang sehat seperti batuk atau flu berat, tidak diperbolehkan masuk dapur. Ini untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan,” tambahnya.

Ke depan, pihak SPPG berharap program ini terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas, sekaligus menjaga hubungan baik dengan sekolah dan masyarakat.

“Harapan kami ke depan tentu semakin baik lagi, baik dari sisi pelayanan maupun hubungan dengan masyarakat dan sekolah,” tutup Della.

Pos terkait