Insert88.com, Palembang – Aktivis senior Sumatera Selatan, Syafran Suprana yang akrab disapa Kuyung Syafran, menegaskan pentingnya budaya diskusi dan silaturahmi intelektual di kalangan mahasiswa dan aktivis muda. Hal tersebut disampaikannya dalam pertemuan bersama aktivis dan mahasiswa di kediaman Raja Sriwijaya Yan Coga, Posko Koalisi Aktivis Rakyat Bawah, Minggu Malam (29/3/2026).
Menurut Kuyung Syafran, silaturahmi di kalangan anak muda seharusnya tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, melainkan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Silaturahmi itu harus diisi dengan hal-hal yang meningkatkan kualitas diri. Bisa dalam bentuk diskusi, tukar pendapat, tidak harus formal,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa diskusi merupakan hal yang sangat penting bagi seorang mahasiswa maupun aktivis. Bahkan, ia menyebut diskusi sebagai “kemewahan” yang tidak semua orang mampu memanfaatkannya dengan baik.
“Bagi seorang aktivis, diskusi itu adalah kebenaran hidup. Kalau mahasiswa menganggap diskusi itu membosankan, maka intelektualitasnya perlu dipertanyakan,” tegasnya.
Kuyung Syafran juga menyoroti peran mahasiswa dalam menghadapi situasi saat ini. Ia menilai mahasiswa memiliki keistimewaan karena mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, sehingga harus memberikan manfaat lebih bagi masyarakat.
“Mahasiswa jangan hanya datang kuliah lalu pulang. Itu akan menciptakan pribadi yang tidak peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa mahasiswa merupakan calon pemimpin masa depan. Jika sejak dini tidak dilatih memiliki kepedulian sosial, maka dikhawatirkan akan melahirkan generasi yang abai terhadap kondisi bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Kuyung Syafran juga mengkritik fenomena mahasiswa yang cenderung reaktif tanpa melalui proses kajian mendalam.
“Sekarang banyak yang langsung berpendapat atau demo tanpa diskusi dan analisa. Padahal sebagai kaum intelek, harusnya mereka mengkaji dulu persoalan sebelum mengambil sikap,” ujarnya.
Menurutnya, kemudahan akses informasi di era digital justru seharusnya menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk memperkaya wawasan, bukan sekadar menjadi konsumen informasi.
Kuyung Syafran juga memberikan tantangan kepada para mahasiswa untuk membangun budaya diskusi rutin sebagai upaya meningkatkan intelektualitas dan kepedulian sosial.
Ia mengibaratkan mahasiswa seperti lilin yang harus mampu menerangi lingkungan sekitarnya, meski harus berkorban.
“Jadikan diri seperti lilin, walau habis, tapi bisa menerangi sekitar. Itu prinsip yang harus dipegang,” katanya.
Namun ia mengaku prihatin dengan kondisi saat ini, di mana banyak mahasiswa dinilai mulai terjebak pada kepentingan pribadi dan mengabaikan kepentingan sosial.
“Kalau mereka tidak peduli dengan lingkungan sendiri, bagaimana mau bicara soal bangsa dan negara,” tambahnya.
Sementara itu, Raja Sriwijaya Yan Coga selaku tuan rumah menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi kegiatan diskusi dan silaturahmi intelektual bagi para aktivis dan mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa Posko Koalisi Aktivis Rakyat Bawah terbuka sebagai ruang berkumpul, bertukar gagasan, dan membangun kesadaran sosial.
“Kami siap memfasilitasi adik-adik mahasiswa dan aktivis untuk berdiskusi rutin. Tempat ini memang kami siapkan sebagai wadah untuk melahirkan pemikiran-pemikiran kritis dan konstruktif,” ujar Yan Coga.
Namun demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan forum tersebut tetap bergantung pada kemauan generasi muda itu sendiri.
“Fasilitas bisa kami siapkan, tapi yang paling penting adalah kemauan dari adik-adik untuk terus belajar, berdiskusi, dan peduli terhadap persoalan masyarakat,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Kuyung Syafran berharap kegiatan diskusi dan silaturahmi intelektual dapat terus berlanjut dan difasilitasi secara konsisten.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak membatasi diri hanya pada bidang studi masing-masing, melainkan memperluas wawasan lintas disiplin agar siap terjun ke masyarakat.
“Kalau mau berkembang, mulai dari diskusi rutin, bahas persoalan sosial, banyak membaca, dan punya empati. Itu kunci,” pungkasnya.







