Insert88.com, Palembang – Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Melalui kerja sama dengan Ekrav Indonesia, sejak tahun 2024 lembaga ini menginisiasi Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Keberagaman Pangan, yang kini resmi disosialisasikan dan diluncurkan secara lebih luas.
Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum SMK Dinas Pendidikan Sumsel, Lis Farida, ST., M.Pd., menjelaskan bahwa kurikulum inovatif ini disusun untuk mendukung visi Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan nasional, sekaligus selaras dengan program unggulan Gubernur Sumatera Selatan, Gerakan Sumsel Mandiri Pangan.
“Kurikulum muatan lokal keberagaman pangan ini selaras dengan visi Pak Presiden tentang ketahanan pangan dan juga sejalan dengan program Pak Gubernur tentang Gerakan Sumsel Mandiri Pangan,” ujar Lis Farida saat ditemui, Senin (27/10/2025).
Lis Farida menjelaskan, sejak tahun 2024 kurikulum ini telah diujicobakan di 34 sekolah piloting project di Sumatera Selatan yang terdiri dari 17 SMA dan 17 SMK. Pelaksanaan pilot project tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur Dinas Pendidikan, pengawas SMA dan SMK, hingga perwakilan guru dari sekolah-sekolah pelopor.
“Tim pengembang kurikulum ini dibentuk dari berbagai unsur, termasuk guru, pengawas, dan pihak sekolah. Hasilnya, kami telah menyusun dokumen lengkap mulai dari elemen pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, hingga modul ajar yang siap digunakan oleh sekolah-sekolah di Sumsel,” jelasnya.
Kurikulum muatan lokal keberagaman pangan kini resmi menjadi bagian dari struktur kurikulum satuan pendidikan SMA dan SMK dengan alokasi waktu dua jam pelajaran per minggu. Menurut Lis, keberadaan mulok ini memberikan alternatif bagi sekolah untuk memilih kurikulum sesuai potensi dan kearifan lokal daerah masing-masing.
“Selain bahasa daerah dan adat istiadat, kini sekolah punya opsi mulok keberagaman pangan yang sangat relevan dengan kondisi Sumsel. Sekolah bisa melaksanakannya di kelas X, XI, maupun XII,” terangnya.
Selain sosialisasi ke sekolah-sekolah, pihak Ekrav Indonesia bersama Dinas Pendidikan juga telah menggelar bimbingan teknis (bimtek) bagi para kepala sekolah dan guru pelopor di 17 kabupaten/kota se-Sumatera Selatan.
Kegiatan ini bertujuan memastikan pemahaman yang kuat mengenai implementasi kurikulum, metode pengajaran, dan pengembangan potensi lokal di lingkungan sekolah.
Lebih jauh, Lis Farida menegaskan bahwa penerapan kurikulum ini bukan sekadar pengajaran teori, tetapi diarahkan untuk mendorong kemandirian pangan dan kewirausahaan siswa.
“Kami berharap sekolah bisa memanfaatkan lahan di lingkungan mereka untuk mengembangkan potensi lokal. Kurikulum ini juga diharapkan bisa melahirkan wirausaha-wirausaha muda di kalangan pelajar,” tutupnya.







