Luncurkan Website “Si Cantik”, Produk Warga Binaan Lapas Se-Sumsel Kini Bisa Dipasarkan ke Seluruh Indonesia

Insert88.com, Palembang — Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia bersama Kantor Wilayah Kemenkumham Sumatera Selatan menggelar Pameran Produk Lapas dan Rutan se-Sumatera Selatan sekaligus Launching Website E-Commerce “Si Cantik”, Sabtu (25/10/2025), di kawasan Kambang Iwak Palembang, tepatnya di area depan Rumah Dinas Wali Kota Palembang.

Acara ini menjadi momentum penting bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) di Sumsel untuk memperluas jangkauan pemasaran hasil karya warga binaan pemasyarakatan (WBP). Melalui website Si Cantik, produk hasil kreativitas warga binaan kini dapat diakses oleh masyarakat di seluruh Indonesia secara daring.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI, Erwedi Supriyatno, Bc.IP., S.H., M.H., memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi yang digagas oleh Kalapas Perempuan Palembang. Ia menyebut, langkah ini merupakan bentuk terobosan penting dalam upaya pembinaan dan kemandirian warga binaan.

“Selama ini pemasaran hasil karya warga binaan masih bersifat konvensional, hanya melalui pameran atau galeri di tempat tertentu. Dengan adanya website Si Cantik, masyarakat dari seluruh Indonesia bisa langsung melihat dan membeli produk dengan harga yang tercantum. Ini inovasi yang sangat brilian,” ujarnya.

Erwedi menambahkan, program ini juga sejalan dengan visi pemerintah dalam mendukung peningkatan UMKM nasional. Menurutnya, sebagian besar produk warga binaan berasal dari Lapas Perempuan Palembang, yang memiliki tingkat kreativitas tinggi dalam menghasilkan karya-karya unggulan.

“Perempuan memang punya kreativitas luar biasa. Banyak produk kerajinan, batik, dan tenun dihasilkan dari tangan-tangan mereka. Kami berharap dukungan masyarakat Sumatera Selatan untuk ikut membeli dan memasarkan hasil karya warga binaan agar semangat mereka terus tumbuh,” tambah Erwedi.

Ia juga mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak seperti Yayasan Srikandi Merah Putih, Pertamina, dan PLN, yang turut membantu permodalan dan pelatihan bagi warga binaan agar mampu mandiri setelah bebas nanti.

 

Sementara itu, H. Amir, Ketua Yayasan Srikandi Merah Putih, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif digitalisasi pemasaran karya warga binaan. Ia menegaskan, pihaknya tidak ingin masyarakat membeli produk warga binaan karena rasa iba, melainkan karena kualitasnya memang layak jual dan kompetitif.

“Kami ingin mengubah paradigma masyarakat. Produk hasil karya warga binaan bukan untuk dikasihani, tapi dibeli karena memang berkualitas dan bisa bersaing di pasar,” tegasnya.

Yayasan Srikandi Merah Putih saat ini tengah bekerja sama dengan Ditjen Pemasyarakatan dan Imigrasi untuk membangun 33 Galeri Pemasyarakatan di seluruh Indonesia, yang akan menjadi pusat pameran hasil karya WBP. Proyek perdana dimulai di Lapas Pemuda Kelas II Tangerang, yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan.

“Kami baru satu bulan berdiri, tapi sudah melakukan gebrakan dengan mengunjungi sepuluh lapas di berbagai daerah. Kami membeli langsung produk mereka untuk dipasarkan kembali. Kami juga sedang menyiapkan langkah ekspor,” ungkap Amir.

Amir menambahkan, Yayasan Srikandi Merah Putih telah menjadwalkan pameran produk warga binaan di Australia pada 31 Oktober 2025, serta pameran internasional di Guangzhou, Tiongkok, pada November mendatang.

“Kami ingin karya warga binaan Indonesia dikenal dunia. Mereka punya potensi besar. Kami akan bantu mereka agar bisa mandiri, produktif, dan berdaya saing global,” katanya.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh berbagai stakeholder, termasuk perwakilan BUMN, komunitas kreatif, serta influencer nasional seperti Dea Lestari, Mbak Plo, Jeqi, dan Damai, yang menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan warga binaan di bawah naungan Yayasan Srikandi Merah Putih.

Melalui peluncuran website Si Cantik dan pameran produk ini, Kemenkumham berharap semangat kemandirian warga binaan semakin kuat, sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi mereka setelah bebas nanti.

“Kami tidak ingin pembinaan berhenti di dalam lapas saja. Kami ingin warga binaan bisa terus berkarya, punya penghasilan, dan menjadi bagian dari masyarakat yang produktif,” tutup Erwedi.

Pos terkait