Lampung, insert88.com – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) terus bergerak cepat merespons bencana banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Indonesia. Kamis (30/01/25).
Wakil Ketua LPBI PBNU, H. Maskut Candranegara, menyampaikan bahwa relawan telah diterjunkan ke berbagai lokasi terdampak, termasuk Pekalongan, Pasuruan, dan Bandar Lampung. “Kami telah mengirimkan relawan ke wilayah terdampak untuk membantu evakuasi, distribusi logistik, serta mendirikan dapur umum sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar H. Maskut.
Dalam upaya penanganan bencana, LPBI PBNU selalu bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta organisasi masyarakat lainnya. Koordinasi ini bertujuan untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan efektif dan sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kami turun bersama BPBD, BNPB, dan mitra lainnya untuk memastikan penanganan dilakukan secara cepat dan tepat. Relawan kami berperan aktif dalam evakuasi, penyediaan makanan bagi korban, serta dukungan medis bagi yang membutuhkan,” jelasnya.
Berdasarkan laporan di lapangan, Pekalongan menjadi wilayah yang terdampak paling parah akibat tanah longsor. “Longsor memiliki tantangan penanganan yang lebih kompleks dibandingkan banjir. Selain evakuasi korban, kami juga harus menangani pemukiman yang tertimbun, merelokasi warga, dan memastikan bantuan terus berjalan,” terang H. Maskut.
Sementara itu, di Pasuruan dan Bandar Lampung, bencana yang terjadi adalah banjir yang merendam ratusan rumah warga. Meski menyebabkan kerugian besar, dampak banjir lebih cepat ditangani dibanding longsor. “Begitu banjir surut, warga bisa segera kembali ke rumah mereka. Sedangkan longsor sering kali membuat warga kehilangan tempat tinggal secara permanen,” tambahnya.
LPBI PBNU memiliki relawan yang telah mendapatkan pelatihan bersertifikat dalam bidang kebencanaan. Pelatihan ini diberikan langsung oleh BNPB dan bekerja sama dengan Kementerian Sosial.
“Kami selalu memperbarui metode dan keterampilan dalam penanganan bencana untuk memastikan relawan memiliki kompetensi yang dibutuhkan,” kata H. Maskut.
Dalam setiap misi kemanusiaan, LPBI PBNU mendirikan Posko NU Peduli sebagai pusat koordinasi dan distribusi bantuan. Relawan dikerahkan dalam sistem rotasi, di mana mereka bertugas selama tiga hingga lima hari tergantung pada kondisi di lapangan.
“Sistem rolling ini sangat penting karena relawan kami bukan pekerja penuh waktu. Mereka juga memiliki keluarga dan pekerjaan lain yang harus diperhatikan,” tambahnya.
Dalam hal pendanaan dan distribusi bantuan, LPBI PBNU mendapat dukungan dari Lazismu, lembaga zakat, infak, dan sedekah Nahdlatul Ulama. Bantuan yang diberikan mencakup:
- Logistik: Makanan siap saji, air bersih, alat kebersihan, serta perlengkapan dapur umum.
- Layanan kesehatan: Pemberian obat-obatan, pemeriksaan kesehatan bagi warga terdampak, serta distribusi vitamin untuk mencegah penyakit pasca-bencana.
“Relawan kami berfokus pada tenaga dan distribusi bantuan, sementara sarana prasarana besar seperti alat berat tetap menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, kami siap jika diberikan fasilitas tambahan dan pelatihan lebih lanjut,” jelas H. Maskut.
LPBI PBNU terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak untuk memastikan respons bencana lebih cepat dan tepat sasaran. Data yang digunakan dalam operasi di lapangan diperoleh dari BNPB dan BPBD setempat agar langkah-langkah yang diambil sesuai dengan kondisi nyata.
“Kami berharap upaya ini dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana. NU selalu hadir di tengah umat dalam situasi darurat, mengutamakan kerja sama dan gotong royong untuk kepentingan bersama,” tutup H. Maskut.
Dengan langkah cepat dan strategi yang matang, LPBI PBNU terus menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana di Indonesia, memastikan setiap bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan.







